Kembalikan Kehidupan Perempuan dan Anak di Aleppo, Suriah!

Perempuan. Perempuan adalah kunci kebesaran suatu bangsa. Ketika para kaum perempuan di suatu negara baik dan terdidik, maka akan baik dan besar pula negara tersebut. Namun jika kaum perempuan di suatu negara tersebut buruk dan tidak terdidik, maka akan kerdil dan hancur lah negara tersebut. Karena itu, kesejahteraan perempuan sangat penting untuk diperhatikan oleh pemerintah dan warganya.

Anak. Anak adalah aset negara yang sangat berharga. Kelak anak akan berevolusi menjadi seorang pemuda. Pemuda adalah kekuatan dan tonggak dari peradaban suatu bangsa. Seperti ungkapan dari Presiden Republik Indonesia yang pertama, Ir. Soekarno, “Berikan aku 10 pemuda, maka akan aku guncangkan dunia ini.” Karena itu, kesejahteraan anak sangat penting untuk diperhatikan oleh pemerintah dan warganya.

Aleppo. Aleppo adalah sebuah kota di Suriah yang menjadi ibu kota Kegubernuran Aleppo yang berpopulasi terbesar dalam Kegubernuran di Suriah. Aleppo adalah sebuah kota kuno besar dan salah satu kota tertua di dunia yang tercatat dalam sejarah. Aleppo yang tadinya disibukkan dengan hiruk-pikuk aktivitas perdagangan dan keahlian militernya, sekarang hanya tersisa puing-puing. Sangat sulit untuk membuat skala kehancuran dan penderitaan yang akurat. Namun kebanyakan sepakat bahwa lebih dari 500.000 orang terbunuh. lebih dari 11 juta orang mengungsi dari rumahnya atau dari negara itu. Jumlah tersebut kira-kira sama dengan jumlah setengah penduduk Suriah sebelum perang.

Tindakan brutal yang dilakukan oleh rezim Asad, Iran, dan Rusia telah memberikan dampak yang besar terhadap kehidupan masyarakat Aleppo, khususnya untuk kaum perempuan dan anak. Betapa tidak, jika kehormatan perempuan (baik para istri maupun anak-anak perempuan) telah dilucuti oleh para tentara rezim. Tentara rezim menahan, memenjarakan, memerkosa, bahkan tak sedikit peremuan yang dibunuh dengan cara sadis. Bahkan para laki-laki (baik para ayah maupun para suami) meminta fatwa ulama untuk diizinkan membunuh istri maupun anak perempuan mereka dari pada mereka harus dijadikan pemuas hawa nafsu tentara rezim yang biadab.

Kehidupan anak-anak di Aleppo terenggut. Berbeda dengan di Indonesia dimana anak-anak bisa merasakan dunia pendidikan, merasakan canda gurau bersama teman sebaya, merasakan kasih sayang orang tua dalam kesehariannya. Namun di Aleppo tidak demikian. Anak-anak di Aleppo tidak sempat mendapat pendidikan karena sekolah-sekolah mereka telah luluh lantak menjadi puing-puing. Anak-anak Aleppo tidak sempat bersenda gurau bahkan hanya sekedar untuk tersenyum di tengah hujan bom dan dentuman senjata. Anak-anak Aleppo tidak sempat menikamti kasih sayang orangtua mereka karena sang ayah harus mengangkat senjata demi melindungi keluarganya sementara sang ibu menjadi tawanan tentara rezim.

Sebagai negara yang telah bersumpah sebagai negara yang berdaulat, siap membela negara manapun yang sedang kesusahan, maka seharusnya pemerintah Republik Indonesia mengambil tindakan tegas atas pembataian yang terjadi di Aleppo, Suriah. Beberapa negara seperti Turki, bosnia, Gaza, Suriah, Maroko, Kuwait, Paris, Arab Saudi, sudah mengambil langkah tegas dalam mengutuk aksi pembantaian rezim di Aleppo. Berbagai bentuk tindakan yang diambil oleh beberapa negara di atas, seperti aksi demontrasi merebak di banyak negara mengutuk aksi pembantaian di Aleppo. Cahaya di puncak Eiffel sengaja dipadamkan dalam rangka menolak aksi pembantaian di Aleppo. Saudi mengusir duta besar Rusia dan memutus hubungan diplomatik dengan Rusia. Qatar membatalkan perayaan hari jadi negara yang jatuh pada tanggal 18 Desember dalam rangka mengecam pembantaian di Aleppo. Sudan menulis status Facebook dalam akun resminya, “Saya mengharapkan negara-negara yang berbatasan dengan Suriah agar memberikan akses kepada tentara Sudan untuk masuk dalam misi penyelamatan penduduk Aleppo dari pembantaian rezim Assad beserta koalisi.”. Ketua komite khusus investigasi HAM PBB di Suriah, Carla Dail Bounty mengusulkan agar dibentuk tim khusus untuk mengadili aksi kejahatan yang terjadi di Aleppo.

Maka dari itu, Kementerian Pemberdayaan Wanita BEM U KBM Unila bersama Forum Perempuan BEM SI menuntut pemerintah Indonesia untuk:
1. Mengutuk rezim Asad, Iran, dan Rusia di wilayah Aleppo atas serangan berdarah tidak berperikemanusiaan.
2. Menuntut pemerintah Indonesia untuk desak PBB sebagai pemilik kewenangan atas negara-negara dunia internasional yang seharusnya berbuat nyata menghentikan agresif militer tiga negara tersebut yang sudah menciptakan krisis kemanusiaan di dunia beberapa tahun belakangan.
3. Mendesak pemerintah Indonesia untuk mengambil langkah-langkah konkret dan memberikan kontribusi real sebagai upaya menghentikan tragedi berdarah yang melanggar HAM.
4. Menghimbau masyarakat untuk menggencarkan pemberitaan di berbagai media atas serangan berdarah di Aleppo agar warga dunia membuka mata bahwa pelanggaran HAM berat masih berlangsung di Suriah.
5. Menuntut Bapak Presiden Indonesia untuk mencabut perjanjian kerjasama dengan Iran dan Rusia yang merupakan rezim pembantai masyarakat Aleppo.

Post by Maya P.S (Menteri Pemberdayaan Wanita BEM Unila 2016)

#SaveAleppo
#PerempuanPunyaPeran
#PerempuanHebat
#KementerianPWBEMUnila
#KolaborasiHebat
#InformativeInsightful

Be the first to comment

Leave a Reply