Pernyataan Sikap BEM Seluruh Indonesia: BUMN Untuk Negeri!

Belum hilang dari ingatan ketika rupiah melemah beberapa waktu lalu, menyebabkan perekonomian nasional menjadi lesu. Banyak perusahaan gulung tikar dan menyebabkan menggunungnya pengangguran. Di saat itu Indonesia dikagetkan dengan masuknya tenaga kerja asing menyaingi para anak negeri. Paket-paket kebijakan ekonomi kabinet kerja pun tidak mampu menjadi solusi atas masalah yang dihadapi. Padahal kabinet ini berisi kaum-kaum akademisi yang tidak diragukan lagi manifestasi keilmuannya di kuatkan dengan besarnya gelar sebelum dan sesudah namanya. Namun pertanyaanya, adakah mereka mencintai negeranya ?

Permasalahan ekonomi semakin mencekik, ditandai dengan menurunnya pemasukan negara. Siasat yang diambil lagi-lagi tidak memihak kepada rakyat kecil, tetapi memanjakan para oligarki. Tax amnesty, merupakan manifesto peraupan dana tanpa memperhatikan aspek keadilan. Belum selesai perdebatan dengan tax amnesty, bangsa lagi-lagi digegerkan dengan wacana penjualan 4 Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Penjualan yang lebih dikenal dengan right issue ini merupakan program penyambutan tax amnesty, karena surat-surat berharga BUMN akan meningkat harganya selama 6 bulan kedepan, ujar Darmin Nasution 12 Juli 2016.

Kebijakan ini jelas merupakan sikap lemahnya kecintaan terhadap negara, apalagi soal bela negara. Tax amnesty pun tidak menunjukan progres yang bagus hampir 2 bulan ini, apakah kita akan gadaikan lagi harga diri bangsa? Apakah akademisi dalam kabinet ini berpikiran rendah layaknya pedagang sederhana bahwa memperoleh uang hanya dengan ‘berjualan’ ? Padahal mereka lebih tahu bagaimana meningkatkan pemasukan negara, hanya saja mereka takut kepada penguasa.

Oleh sebab itu, Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) menyatakan sikap menolak penjualan BUMN Indonesia. Mari bersama cintai negara kita, masih banyak solusi atas permasalahan ini bukan hanya dengan berpikir singkat menjual aset bangsa, aset bersama rakyat Indonesia. BUMN milik negeri, BUMN harga mati !

Oleh: Bagus Tito Wibisono ;
Koordinator Pusat BEM Seluruh Indonesia

Be the first to comment

Leave a Reply